TANPA SENJATA NUKLIR

Senjata nuklir merupakan ancaman serius dan semakin mengkhawatirkan bagi umat manusia dan planet kita. Menghapuskannya merupakan tugas yang semakin mendesak.

Unduh buklet
TANPA SENJATA NUKLIR

Sebagian besar negara di dunia telah berkomitmen kuat terhadap tujuan ini, dengan bergabung dalam Traktat Pelarangan Senjata Nuklir (Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons) yang bersejarah, yang mulai berlaku pada tahun 2021.

Namun, ada sembilan negara yang masih memiliki senjata pemusnah massal paling ampuh, menentang norma internasional baru dan kehendak warga negara mereka. Setiap tahun, mereka menghamburkan miliaran dolar untuk meningkatkan dan memperluas persenjataan mereka.

Perlombaan senjata nuklir yang berbahaya sedang berlangsung, dan risiko penggunaan senjata nuklir – baik disengaja maupun tidak – saat ini tetap tinggi seperti sebelumnya. Kita selalu berada di ambang bencana global hanya karena satu keputusan yang salah.

Untuk mencegah kerusakan yang tak ada duanya, yang memang merupakan tujuan dikembangkannya senjata nuklir, pemerintah harus bertindak dengan segera untuk melenyapkannya sebagai satu-satunya jaminan terhadap penggunaan dan uji coba senjata nuklir lebih lanjut.

Namun, melenyapkan senjata nuklir hanya akan terjadi jika masyarakat di seluruh dunia bangkit dan menuntut aksi nyata.

Senjata terburuk di dunia

Senjata nuklir adalah senjata paling merusak, tak pandang bulu, dan tidak manusiawi yang pernah dibuat. Satu bom saja sudah cukup kuat untuk menghancurkan seluruh kota, dengan korban jiwa hingga ratusan ribu, bahkan jutaan.

Komite Internasional Palang Merah menggambarkan senjata nuklir sebagai “senjata yang unik dalam kemampuan merusaknya, dalam menimbulkan penderitaan manusia yang yang tak dapat diungkapkan… serta dalam menimbulkan ancaman terhadap lingkungan, generasi mendatang, dan bahkan kelangsungan hidup umat manusia”.

Dengan melepaskan radiasi dalam jumlah besar, senjata ini meracuni udara, tanah, air, dan tubuh kita, menimbulkan kerusakan yang melintasi batas-batas negara dan generasi.

Selama senjata ini masih ada, ada risiko yang sangat nyata bahwa senjata ini akan digunakan kembali, dan konsekuensinya akan sangat besar, termasuk bagi masyarakat di negara-negara yang tidak ada kaitannya dengan konflik di mana senjata ini digunakan.

Masker gas tidak memberikan perlindungan terhadap radiasi gamma. Sumber: Ricky Pitman

Dampak senjata nuklir

Panas

Ketika diledakkan, senjata nuklir melepaskan panas yang luar biasa. Hampir semua benda dan makhluk hidup di sekitar titik ledakan langsung berubah menjadi abu dan uap.

Sebuah bola api raksasa, dengan suhu inti melebihi satu juta derajat Celcius, melambung tinggi ke langit, sementara suhu di permukaan tanah mencapai ribuan derajat – lebih panas daripada di permukaan Matahari.

Panas ekstrem tersebut memicu kebakaran di area yang luas, yang melepaskan asap beracun dan gas pembakaran ke udara dan bersatu membentuk badai api raksasa.

Bahkan, orang-orang yang berada dalam jarak puluhan kilometer dari titik ledakan pun menderita luka bakar parah yang mengancam nyawa, sementara orang-orang yang berada dalam jarak lebih jauh lagi menjadi buta akibat kilatan cahaya yang sangat terang.

Ledakan

Senjata nuklir juga menghasilkan gelombang udara bertekanan tinggi yang sangat besar, bergerak cepat yang dikenal sebagai gelombang kejut, yang menyebar ke luar sejauh berkilometer-kilometer.

Gelombang ini melemparkan orang-orang ke udara, membuat mereka pingsan, mencabik-cabik tubuh mereka, dan menyebabkan paru-paru mereka tidak bekerja.

Bangunan-bangunan di wilayah yang luas hancur rata dengan tanah, dan banyak orang tewas tertimpa reruntuhan. Benda-benda yang tidak terikat terlempar ke udara seperti rudal.

Bahkan, gedung pencakar langit dengan beton dan baja yang besar pun hancur oleh kekuatan ledakan tersebut.

Radiasi

Reaksi rantai nuklir yang menyebabkan ledakan melepaskan radiasi pengion dalam jumlah yang sangat besar, yang menembus jauh ke dalam tubuh manusia, menghancurkan atau merusak sel-sel mereka dan memicu penyakit.

Bahkan pada jarak beberapa kilometer dari titik nol, orang-orang terpapar radiasi yang cukup tinggi yang dapat menyebabkan kematian akibat keracunan radiasi akut.

Gejala yang muncul meliputi muntah, gusi berdarah, diare, dan kerontokan rambut. Sebagian besar korban meninggal dalam beberapa bulan setelah serangan.

Sebagian orang pulih dari tahap akut penyakit tersebut tetapi meninggal beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun kemudian akibat kanker dan penyakit lain yang disebabkan oleh efek radiasi yang tertunda.

Sebagian penyintas menunjukkan kelainan kromosom dan jenis kerusakan genetik lainnya, yang dapat diturunkan ke generasi mendatang.

Luruhan radioaktif

Senjata nuklir juga menghasilkan awan jamur raksasa, yang menyedot debu dan puing-puing radioaktif ke dalam kolom udara dan melepaskannya ke atmosfer.

Arus angin menyebarkannya ke udara, dan akhirnya jatuh ke tanah di area yang sangat luas.

Dikenal sebagai luruhan, proses ini menimbulkan risiko kesehatan jangka pendek dan jangka panjang bahkan bagi orang-orang yang berada jauh dari titik nol. Beberapa isotop radioaktif tetap berbahaya selama bertahun-tahun, mencemari tanah, air, dan pasokan makanan.

Gelombang elektromagnetik

Jika diledakkan pada ketinggian yang tinggi, senjata nuklir memancarkan pulsa elektromagnetik yang sangat kuat, yang dapat merusak perangkat elektronik di wilayah yang luas. Jaringan seluler, akses internet, dan teknologi perbankan semuanya mengalami gangguan parah.

Efek ini pertama kali diamati pada era uji coba nuklir yang dilakukan di atmosfer dan ketinggian tinggi. Pada tahun 1962, ketika Amerika Serikat melakukan uji coba senjata nuklir di luar angkasa sekitar 400 kilometer di atas Atol Johnston di Samudra Pasifik, ledakannya menyebabkan kerusakan pada lampu-lampu jalan dan telepon-telepon di Hawaii, yang berjarak lebih dari 1.450 kilometer.

Ledakan nuklir dengan daya ledak sangat tinggi di ketinggian yang tinggi dapat menghancurkan perangkat elektronik di seluruh wilayah sebuah benua.

Dampak ledakan uji coba nuklir pada rumah tiruan di negara bagian Nevada, AS. Sumber: Pemerintah AS

Kerentanan yang lebih besar pada anak-anak

Bayi dan anak-anak, khususnya, sangat rentan terhadap dampak senjata nuklir.

Mereka lebih berisiko meninggal akibat luka bakar (karena kulit mereka lebih tipis dan lebih sensitif), cedera akibat ledakan (mengingat tubuh mereka relatif lebih rapuh), dan penyakit radiasi akut (karena mereka memiliki lebih banyak sel yang sedang tumbuh dan membelah dengan cepat).

Mereka juga kurang mampu menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan yang terbakar atau mengambil langkah-langkah lain pasca-kejadian untuk meningkatkan peluang bertahan hidup mereka.

Seorang anak menerima perawatan luka bakar setelah pemboman nuklir AS di Nagasaki pada tahun 1945. Sumber: Yasuo Tomishige

Musim dingin nuklir dan kelaparan

Senjata nuklir adalah satu-satunya alat yang pernah diciptakan dengan kemampuan untuk memusnahkan semua bentuk kehidupan yang kompleks di Bumi.

Jika seratus senjata nuklir atau lebih digunakan di kota-kota, jelaga dan asap dari badai api yang terjadi akan menyelimuti planet ini dan menghalangi sinar matahari selama lebih dari satu dekade sehingga menyebabkan penurunan suhu global yang drastis. Efek ini yang dikenal sebagai musim dingin nuklir.

Dunia dilanda kegelapan dan akan mengalami kondisi membeku, termasuk di daerah-daerah yang saat ini beriklim tropis. Tanaman pangan akan hancur dan produksi pertanian global akan runtuh, yang menyebabkan bencana kelaparan yang meluas serta perpecahan masyarakat.

Wabah penyakit menular dan konflik atas sumber daya yang langka akan merajalela. Orang-orang yang sudah kekurangan gizi akan berada pada risiko kematian tertinggi.

Bahkan, perang nuklir yang disebut “terbatas,” yang melibatkan sebagian kecil negara pemilik senjata nuklir global, akan menempatkan sebagian besar populasi dunia pada risiko kelaparan.

Perang semacam itu akan sangat merusak lapisan ozon, menyebabkan peningkatan besar pada jenis-jenis kanker dan menghilangkan kehidupan laut secara besar-besaran. Banyak spesies tumbuhan dan hewan akan menghadapi kepunahan, dan kerusakan pada planet ini tidak akan dapat dipulihkan.

Pengungsian dan kehancuran ekonomi

Dalam perang nuklir, jutaan orang yang terpapar radiasi sisa ledakan akan terpaksa mengungsi dari rumah mereka ke negara-negara tetangga, dan sangat membutuhkan tempat berlindung, makanan dan air yang tidak terkontaminasi, serta layanan kesehatan. Jumlah orang yang mencari perlindungan akan mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Penggunaan senjata nuklir dalam skala besar juga akan sangat mengganggu perdagangan internasional dan telekomunikasi, serta berpotensi menyebabkan hancurnya ekonomi global, yang akan memperburuk kemiskinan dan menghambat pencapaian tujuan-tujuan pembangunan manusia selama beberapa dasawarsa.

Tidak ada negara maupun individu yang kebal terhadap dampak potensial tersebut.

Hiroshima dan Nagasaki

Lebih dari seperempat juta orang tewas ketika Amerika Serikat menjatuhkan dua bom nuklir dengan ukuran yang relatif kecil di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Agustus 1945. Untuk pertama kali dan satu-satunya senjata nuklir digunakan dalam perang.

Banyak yang langsung hangus terbakar. Yang lain meninggal dalam penderitaan selama berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu setelah serangan akibat luka bakar parah, cedera ledakan, dan penyakit radiasi akut. Tak terhitung lagi yang meninggal bertahun-tahun kemudian akibat kanker dan penyakit lain yang terkait dengan radiasi.

Untuk mencegah terulangnya kekejaman semacam itu, negara-negara harus bertindak dengan segera untuk memusnahkan senjata nuklir.

Di Hiroshima dan Nagasaki, pemandangan kehancuran itu seperti kiamat: Lapangan sekolah dipenuhi anak-anak yang tewas dan sekarat. Ibu-ibu memeluk bayi mereka yang tak bernyawa. Orang-orang dengan usus yang terburai dan potongan kulit yang menggantung dari anggota tubuh mereka.

Sebagian besar korban meninggal tanpa perawatan untuk meringankan penderitaan mereka, karena sedikit rumah sakit yang masih berdiri, persediaan medis telah hancur, dan sebagian besar dokter serta perawat telah tewas atau terluka. Mereka yang datang ke kedua kota tersebut setelah serangan untuk memberikan bantuan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri akibat radiasi yang masih tersisa.

Sebagian besar korban – lebih dari 90 persen – adalah warga sipil, termasuk sekitar 38.000 anak-anak. Pada saat serangan terhadap Hiroshima, sekitar 8.400 siswa sekolah menengah pertama sedang berada di luar ruangan untuk membuat pembatas api sebagai tindakan pertahanan sipil; 6.300 di antaranya tewas.

Hiroshima dalam kehancuran. Sumber: Pemerintah AS

Sebuah pajangan di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima.

Titik nol

Di setiap kota, yang berada paling dekat dengan titik nol, yang dikenal sebagai hiposentrum ledakan, hampir tidak memiliki peluang untuk selamat. Hampir semua orang dalam radius 1,2 kilometer yang tidak terlindung dari dampak bom tewas seketika atau dalam beberapa minggu kemudian.

Suhu permukaan di hiposentrum mencapai 3.000 hingga 4.000 derajat Celsius. Orang-orang berada dalam jarak sejauh 3,5 kilometer mengalami luka bakar. Gelombang kejut yang dahsyat menghancurkan sebagian besar bangunan kayu dalam radius 2 kilometer.

Bahkan, orang-orang terpapar radiasi mengion yang cukup tinggi sampai meninggal akibat keracunan radiasi akut dalam jarak 1 kilometer. Banyak orang yang berada lebih jauh juga meninggal akibat efek paparan radiasi yang tertunda.

Pasca-ledakan

Di tengah kekacauan pasca pemboman, dengan putus asa para orang tua mencari anak-anak mereka, dan sebaliknya, anak-anak mencari orang tua mereka. Sebagian hanya menemukan sisa-sisa jenazah yang hangus atau barang-barang pribadi orang yang mereka cintai; yang lain sama sekali tidak menemukan jejak apa pun.

Upaya untuk menyatukan kembali anggota keluarga semakin sulit karena banyak di antara mereka yang menderita luka parah sehingga hampir tak dapat dikenali.

“Setelah beberapa saat, aku mengintip keluar dari tempat perlindungan serangan udara. Aku melihat orang-orang berserakan di seluruh lapangan bermain. Tanah hampir seluruhnya tertutupi oleh mayat. Sebagian besar tampak sudah meninggal dan terbaring diam. Namun, di sana-sini, ada yang menggerakkan kaki atau mengangkat tangan.”

– Fujio Tsujimoto, lima tahun, Nagasaki

Beberapa korban sama sekali tidak menunjukkan luka fisik, tetapi tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. Kematian mereka membingungkan petugas penyelaman yang pertama datang, yang tidak menyadari bahwa senjata jenis baru dengan efek radioaktif yang berbahaya telah digunakan.

Banyak wanita hamil di kota-kota tersebut mengalami keguguran atau melahirkan bayi yang meninggal saat masih mengandung, karena radiasi dari bom-bom tersebut telah masuk ke dalam rahim mereka. Kelainan bawaan, termasuk mikrosefalus (yakni kondisi kepala bayi yang lebih kecil dari ukuran normal), sering terjadi pada bayi yang terpapar radiasi saat masih berada dalam kandungan.

Nagasaki satu bulan setelah serangan. Sumber: Pemerintah AS

Seorang anak laki-laki di Nagasaki menerima makanan jatah setelah kejadian tersebut. Sumber: Yosuke Yamahata

Sepeda roda tiga Shinichi

Pada saat serangan terhadap Hiroshima, Shinichi Tetsutani yang berusia tiga tahun sedang berada di luar rumahnya melakukan hal yang paling disukainya, yakni mengendarai sepeda roda tiga.

Ia menderita luka parah, termasuk luka bakar di seluruh tubuhnya, dan meninggal beberapa jam kemudian. Kedua saudara perempuannya, Michiko dan Yoko, juga tewas.

Ayah mereka berkomentar bertahun-tahun kemudian: “Hal ini seharusnya tidak pernah terjadi pada anak-anak. Tolong upayakan untuk menciptakan dunia yang damai di mana anak-anak dapat bermain sepuasnya.”

Sepeda roda tiga Shinichi yang terbakar kini dipamerkan secara permanen di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, dan Museum Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional di Jenewa menyimpan sebuah patung dari sepeda roda tiga yang terbakar itu.

Sepeda roda tiga yang terbakar itu telah menjadi simbol yang memilukan akan penderitaan anak-anak dalam serangan nuklir.

Sumber: Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, disumbangkan oleh Nobuo Tetsutani

Perempuan-perempuan bersaudara di Hiroshima

Kimino Wataoka yang berusia dua tahun dan kakaknya yang berusia lima tahun, Hirono, sedang berada di rumah bersama orang tua mereka ketika Hiroshima diserang. Keempatnya tewas.

Kakak perempuan lainnya, Kayoko, yang berada di dekat titik ledakan, juga tewas. Hanya kakak tertua, Chizuko, yang selamat.

Foto Kimino (kiri) dan Hirono (kanan) yang diyakini diambil hanya satu hari sebelum pengeboman nuklir. Sumber: Miho Iwata

Terpapar oleh bom

Toru Ikemoto berusia tujuh tahun dan kakaknya, Aiko, berusia sembilan tahun saat Hiroshima hancur. Keduanya berada di dalam rumah, yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari titik ledakan.

Dalam waktu empat atau lima hari setelah serangan itu, rambut mereka mulai rontok dan mereka mengalami demam serta gusi berdarah, yang merupakan gejala keracunan radiasi akut.

Meskipun pulih dari tahap akut penyakit tersebut, akhirnya keduanya menyerah pada efek radiasi yang tertunda. Toru meninggal pada usia 11 tahun dan Aiko pada usia 29 tahun.

Kakak beradik Toru (kiri) dan Aiko (kanan) di Rumah Sakit Palang Merah Hiroshima pada Oktober 1945. Sumber: Shunkichi Kikuchi

Para penyintas

Mereka yang, secara kebetulan, selamat dari pengeboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki kemudian dikenal dalam bahasa Jepang sebagai hibakusha, atau “korban ledakan”.

Banyak di antara mereka yang harus menanggung rasa sakit dan ketidaknyamanan seumur hidup akibat luka-luka yang diderita, serta trauma psikologis. Sebagian mengalami pembentukan jaringan parut tebal di tubuh dan wajah mereka, atau hidup selama puluhan tahun dengan pecahan kaca yang tertanam dalam di daging mereka.

Para perempuan menghadapi masalah besar dan stigma khusus karena kekhawatiran bahwa kerusakan genetik yang disebabkan oleh bom tersebut akan diwariskan kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Dalam beberapa tahun setelah serangan tersebut, para penyintas mulai menderita kanker dan penyakit lain dengan tingkat yang sangat tinggi sebagai akibat dari efek radiasi yang tertunda. Leukemia sangat umum terjadi pada tahun-tahun awal.

Untuk memperingatkan dunia akan bahaya senjata nuklir, banyak penyintas telah secara terbuka membagikan kesaksian pribadi mereka tentang apa yang terjadi pada tahun 1945. Beberapa di antaranya yang masih anak-anak saat serangan terjadi masih hidup hingga hari ini dan terus bekerja untuk menyampaikan kebenaran terkait peristiwa tersebut.

Pesan mereka telah jelas dan konsisten selama puluhan tahun: Senjata nuklir dan kemanusiaan tidak dapat hidup berdampingan.

Pada tahun 2024, Nihon Hidankyo, sebuah konfederasi organisasi Jepang yang mewakili para penyintas, memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian “atas upayanya mewujudkan dunia yang bebas dari senjata nuklir dan menunjukkan melalui kesaksian bahwa senjata nuklir tidak boleh digunakan lagi”.

Perjuangan para penyintas yang berani dan tak kenal lelah telah menginspirasi banyak orang di seluruh dunia untuk bergabung dalam gerakan penghapusan senjata nuklir.

Seorang penyintas dan pendukung penghapusan senjata nuklir

Saat berusia 16 tahun, Sumiteru Taniguchi selamat dari bom atom di Nagasaki. “Dalam kilatan ledakan itu, saya terlempar dari sepeda saya dari belakang dan terhempas ke tanah,” kenangnya.

Ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat bahwa anak-anak yang beberapa saat sebelumnya sedang bermain di sekelilingnya kini telah tewas.

Meskipun berada hampir 2 kilometer dari pusat ledakan, ia menderita luka bakar parah di punggung, lengan kiri, dan kaki kirinya. Luka-lukanya segera terinfeksi, dan ia menghabiskan hampir empat tahun di rumah sakit untuk pemulihan, termasuk berbaring tengkurap selama 21 bulan.

Rasa sakit akibat lukanya tak pernah hilang. Ia mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk memperjuangkan penghapusan senjata nuklir.

Sumiteru Taniguchi melihat foto dirinya yang diambil pada tahun 1946, punggungnya menunjukkan bekas luka akibat bom Nagasaki. Sumber: Yuriko Nakao

Warisan uji coba nuklir

Guna meningkatkan kemampuan kekuatan nuklir mereka untuk menghancurkan dan mematikan, dan untuk mengirimkan peringatan kepada musuh-musuh mereka, negara-negara bersenjata nuklir telah melakukan lebih dari 2.000 uji ledakan nuklir di seluruh dunia sejak tahun 1945.

Melepaskan sejumlah besar radiasi ke atmosfer dan lautan, eksperimen beracun ini telah menyebabkan epidemi kanker dan penyakit kronis lainnya. Sebagian besar lahan tetap tidak aman untuk dihuni, bahkan beberapa dekade setelah lokasi uji coba ditutup.

Di negara bagian New Mexico, Amerika Serikat, hanya tiga minggu sebelum pemboman nuklir Hiroshima dan Nagasaki, pemerintah AS melakukan uji ledakan nuklir pertama di dunia, yang diberi nama kode "Trinity". Bola api raksasanya mengubah pasir menjadi kaca, menerangi pegunungan di sekitarnya, dan mengirimkan awan jamur puing-puing radioaktif setinggi 12 kilometer ke langit.

Konsekuensi bagi para pekerja di lokasi uji coba dan komunitas di sekitarnya sangat merusak, dan terus dirasakan hingga saat ini.

Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang yang bekerja di atau tinggal di daerah yang terkena dampak angin atau hilir dari lebih dari 60 lokasi uji coba nuklir lainnya di seluruh dunia, mulai dari gurun Australia dan Aljazair hingga stepa Kazakhstan dan atol-atol di Pasifik.

Iroji Kebenli yang berusia 13 tahun menderita luka bakar akibat radiasi ketika Amerika Serikat menguji senjata nuklir di Kepulauan Marshall pada tahun 1954. Sumber: Pemerintah AS

Awan jamur akibat ledakan uji coba nuklir. Sumber: Pemerintah AS

Lokasi-lokasi uji coba nuklir

Senjata nuklir telah diuji coba di Aljazair, Australia, Cina, India, Kazakhstan, Kiribati, Ma’ohi Nui (Polinesia wilayah Prancis), Kepulauan Marshall, Korea Utara, Pakistan, Rusia, Turkmenistan, Ukraina, Amerika Serikat, dan Uzbekistan.

Uji coba ledakan nuklir di atmosfer, yang dilakukan lebih dari 500 kali antara tahun 1945 hingga 1980, memiliki dampak yang sangat merugikan, karena menyebarkan partikel radioaktif ke segala penjuru. Jika digabungkan, kemampuan menghancurkan dari uji coba uji coba tersebut setara dengan dengan 29.000 bom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Saat ini, setiap orang yang masih hidup membawa zat radioaktif dari uji coba atmosfer di dalam tubuhnya sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit. Para dokter memperkirakan bahwa, seiring waktu, uji coba di masa lalu ini akan menyebabkan setidaknya empat juta kematian dini akibat kanker dan penyakit lainnya.

Ledakan uji coba nuklir yang dilakukan di bawah permukaan air dan di bawah tanah juga telah menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan jangka panjang.

Pada paruh kedua abad ke-20, kekhawatiran global tentang dampak uji coba nuklir memicu gerakan protes berskala besar di berbagai belahan dunia, mendorong para pemimpin untuk menegosiasikan larangan parsial pada tahun 1963 dan larangan komprehensif pada tahun 1996. Keduanya telah membantu menghentikan uji coba nuklir secara global.

Namun, dampak uji coba masa lalu terhadap kehidupan manusia dan ekosistem bumi yang rapuh akan terus dirasakan oleh generasi mendatang. Komunitas internasional memiliki kewajiban tidak hanya untuk memastikan bahwa kehancuran semacam itu tidak terulang lagi, tetapi juga untuk bekerja mengatasi kerusakan yang telah terjadi.

Hanya sedikit korban uji coba nuklir di seluruh dunia yang pernah menerima kompensasi atas penderitaan mereka, dan upaya pembersihan bekas lokasi uji coba nuklir masih sangat jauh dari memadai. Di beberapa lokasi, infrastruktur yang sudah usang terus menimbulkan risiko kontaminasi lebih lanjut.

Ledakan uji coba nuklir Perancis di Atol Moruroa di Ma’ohi Nui pada tahun 1971. Sumber: Pemerintah Prancis

Sebuah kawah terbentuk akibat ledakan uji coba nuklir Soviet di Kazakhstan. Sumber: CTBTO

Rasisme radioaktif

Keyakinan rasis sering kali menjadi landasan keputusan terkait uji coba nuklir, di mana pemerintah dan kekuatan kolonial memandang masyarakat adat sebagai pihak yang dapat dikorbankan, serta tanah suci mereka sebagai sesuatu yang tak berharga dan “terpencil”.

“Tanah kami, laut kami, komunitas kami, dan tubuh kami membawa warisan eksperimen mematikan ini hingga saat ini, dan untuk generasi yang akan datang yang tak terhitung jumlahnya,” kata Karina Lester, seorang perempuan Yankunytjatjara Anangu dari Australia, mewakili koalisi kelompok-kelompok masyarakat adat di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2017.

Dalam upaya mengejar “senjata pemusnah massal yang semakin mematikan”, pihak berwenang memperlakukan masyarakat adat sebagai “kelinci percobaan”, katanya. Persetujuan mereka jarang diminta, apalagi diperoleh, dan perlindungan yang diberikan sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali.

Warisan beracun dari uji coba nuklir telah menyebabkan banyak komunitas terputus dari cara hidup tradisional mereka, tidak mampu kembali ke situs leluhur atau bertahan hidup dari tanah dan perairan seperti yang telah mereka lakukan selama berabad-abad.

Australia: Menjadi buta karena ledakan bom

Pada tahun 1953, ketika Yami Lester berusia 10 tahun, Inggris mulai melakukan uji coba nuklir di Emu Field, dekat rumahnya di pedalaman Australia.

Ia ingat sisa-sisa radioaktif, atau “kabut hitam”, memenuhi langit. Hal itu membuat matanya terasa perih dan, dalam waktu empat tahun, ia kehilangan penglihatannya sepenuhnya.

“Saya hanya sedang bermain dengan anak-anak lain. Saat itulah bom itu meledak,” kenangnya. “Saya ingat suaranya, itu suara yang aneh, tidak keras, tidak seperti apa pun yang pernah saya dengar sebelumnya. Tanah bergetar pada saat yang sama; kami bisa merasakan seluruh tempat itu bergerak.”

Dalam hitungan jam, semua orang di komunitasnya jatuh sakit. “Kami semua muntah; kami mengalami diare, ruam kulit, dan mata perih,” katanya. “Beberapa orang tua, mereka meninggal.”

Yami kemudian menjadi advokat terkemuka mewakili komunitas Aborigin di Australia yang menderita akibat uji coba tersebut. Sejak kematiannya pada 2017, anak-anaknya melanjutkan perjuangan untuk keadilan.

Sumber: Jesse Boylan

Kazakhstan: Seorang seniman lahir tanpa lengan

Karipbek Kuyukov tumbuh besar di desa Yegyndybulak, Kazakhstan, dekat Semipalatinsk, lokasi uji coba nuklir terbesar di Uni Soviet. Ia mengingat betapa perabotan dan peralatan makan bergetar setiap kali ledakan uji coba nuklir terjadi selama masa kecilnya.

Sebelum ia lahir, orang tuanya mendaki bukit di dekat rumah mereka untuk melihat dengan lebih jelas awan jamur yang terang dan luas yang membubung tinggi ke langit.

“Mereka bahkan tidak tahu tentang ancaman kesehatan dan konsekuensi menghancurkan dari kejahatan yang dilakukan terhadap mereka,” ia merenung.

Karipbek lahir pada tahun 1968 tanpa lengan. Meskipun menghadapi tantangan fisik, ia menjadi seniman terkenal yang melukis menggunakan kaki dan mulutnya. Banyak karyanya menyampaikan pesan anti-nuklir.

“Misi utama saya di tanah ini adalah melakukan segala yang saya bisa agar orang-orang seperti saya menjadi korban terakhir dari uji coba nuklir,” katanya. “Saya tidak ingin peristiwa ini terulang di mana pun dan kapan pun, di mana pun di planet ini … Biarlah langit kita bersih dan anak-anak kita sehat!”

Dari tahun 1949 hingga 1989, Uni Soviet melakukan lebih dari 450 uji coba ledakan nuklir di Semipalatinsk, hampir seperempat dari seluruh uji coba di dunia.

Salah satu karya seni Karipbek Kuyukov, berjudul “Ketakutan”.

Kepulauan Marshall: Atol-atol yang terkontaminasi radiasi

Nerje Joseph berusia tujuh tahun pada tahun 1954 ketika Amerika Serikat melakukan uji coba ledakan nuklir terbesar dalam sejarahnya, “Castle Bravo”, sekitar 160 kilometer dari rumahnya di Atol Rongelap, Kepulauan Marshall.

Ledakan itu jauh lebih besar dari yang diperkirakan, dan menyebabkan kontaminasi yang jauh lebih parah. Langit berubah menjadi oranye dan merah muda. Tak seorang pun dari penduduk atol itu yang tahu apa yang telah terjadi.

Beberapa jam kemudian, abu radioaktif dan serpihan karang menghujani rumah-rumah mereka, mencemari kulit, air, dan makanan mereka. Tak lama kemudian, mereka mulai mengalami gejala penyakit radiasi akut.

Rambut Nerje rontok dan, seperti hampir semua orang di atol itu, ia menderita luka bakar.

Beberapa hari kemudian, pihak berwenang AS mengevakuasi penduduk Rongelap ke atol lain karena risiko radiasi nuklir yang sangat tinggi terhadap kesehatan mereka. Namun, setelah tiga tahun dalam pengungsian, pihak berwenang mendorong mereka untuk kembali karena mereka ingin meneliti dampak kesehatan dari radiasi sisa.

“Data semacam ini belum pernah tersedia,” kata seorang pejabat AS saat itu. “Meskipun benar bahwa orang-orang ini tidak hidup seperti orang Barat, orang-orang beradab, tetapi tetap benar bahwa mereka lebih mirip kita daripada tikus.”

Bagi penduduk Rongelap, pemukiman kembali ke kampung halaman mereka ternyata berakibat bencana. Kasus kanker, keguguran, lahir mati, dan cacat lahir meningkat pesat.

Akibat penumpukan isotop radioaktif, Nerje harus menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Ia merindukan masa-masa indah sebelum uji coba nuklir.

Dari tahun 1946 hingga 1958, Amerika Serikat melakukan 67 uji coba ledakan nuklir di Kepulauan Marshall. Ledakan Castle Bravo saja memiliki daya ledak seribu kali lebih besar daripada bom Hiroshima.

Hingga saat ini, seluruh atol tersebut masih tidak aman tempat tinggal, untuk kegiatan pertanian, dan untuk perikanan.

Rambut Nerje Joseph rontok dan kakinya mengalami luka bakar akibat radiasi. Sumber: Pemerintah AS

Sumber-sumber bahaya lainnya

Aspek-aspek lain dari pengembangan senjata nuklir, mulai dari penambangan uranium hingga pembuangan limbah radioaktif, juga telah menimbulkan dampak yang menghancurkan bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Di tambang-tambang uranium, tempat yang menjadi awal dimulainya proses pembuatan senjata nuklir, polusi radioaktif dan kimiawi dari limbah tailing telah meresap ke dalam tanah dan aliran air, sehingga membahayakan para pekerja dan masyarakat di sekitarnya. Tidak ada satu pun tambang di dunia ini yang telah dibersihkan sepenuhnya setelah penambangan selesai.

Kontaminasi radioaktif juga terjadi di reaktor nuklir yang terlibat dalam produksi plutonium untuk senjata nuklir. Di pembangkit listrik tenaga nuklir Windscale di Inggris, misalnya, kebakaran berkobar selama tiga hari pada tahun 1957, menyebarkan awan radiasi ke sebagian besar Eropa. Seluruh susu dari peternakan di sekitarnya harus dimusnahkan.

Banyak komunitas di seluruh dunia juga terus menghadapi tantangan terkait dengan penyimpanan yang aman dan terjamin untuk limbah nuklir dalam jumlah besar yang terkumpul dari produksi puluhan ribu senjata nuklir sejak tahun 1945. Hal ini akan tetap berbahaya selama ribuan tahun.

Para demonstran anti-nuklir di negara bagian Arizona, AS. Sumber: Jack Cohen-Joppa

Senjata nuklir saat ini

Saat ini, sembilan negara memiliki ribuan senjata nuklir, yang menimbulkan ancaman eksistensial yang unik bagi seluruh umat manusia. Ratusan di antaranya berada dalam status siaga tinggi, siap digunakan dalam hitungan menit.

Senjata-senjata tersebut disimpan di silo rudal, dipasang di pesawat terbang, dan berada di kapal selam yang berpatroli di lautan setiap saat. Beberapa di antaranya mampu menempuh jarak ribuan kilometer, melintasi benua, untuk mencapai sasaran mereka.

[FACT]

Fakta: Sembilan negara pemilik senjata nuklir di dunia saat ini diperkirakan memiliki 12.241 senjata nuklir.

[/FACT]

Sebagian besar di antaranya memiliki daya ledak yang jauh lebih besar daripada bom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada awal era nuklir. Yang terbesar di antaranya setara dengan lebih dari satu juta ton atau satu megaton bahan peledak kimia konvensional TNT.

Bahkan, senjata nuklir yang disebut “taktis”, yang dirancang untuk digunakan di medan perang, dapat memiliki daya ledak 20 kali lipat dari daya ledak bom di Hiroshima.

Sebuah kapal selam bertenaga nuklir dapat membawa selusin atau lebih rudal balistik, masing-masing dilengkapi dengan beberapa hulu ledak nuklir, dengan kapasitas gabungan untuk menghancurkan lebih dari seratus kota.

 

Masyarakat yang tinggal di dekat pangkalan militer tempat senjata nuklir ditempatkan menghadapi risiko yang sangat tinggi untuk menjadi korban serangan nuklir, atau menderita dampak buruk akibat ledakan nuklir yang tidak disengaja. Karena kebijakan kerahasiaan pemerintah, sebagian dari mereka bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka tinggal di dekat senjata-senjata tersebut.

Sebagian besar senjata nuklir tidak sekedar disimpan. Senjata-senjata tersebut secara aktif ditempatkan, siap digunakan kapan saja, dan pemerintah terlibat dalam program-program mahal untuk meningkatkan dan memperluas arsenal mereka, dengan dalih “modernisasi”.

Beberapa negara yang memiliki senjata nuklir sedang mengembangkan jenis-jenis baru senjata nuklir, menguji sistem-sistem baru untuk pengirimannya, dan memperluas doktrin-doktrin mereka terkait penggunaan nuklir. Semua tampaknya bertekad untuk mempertahankan kekuatan nuklir mereka di masa depan hingga waktu yang tidak dapat terbatas.

Sebuah rudal nuklir Rusia dalam parade militer tahun 2023. Sumber: Pemerintah Rusia

Rudal nuklir AS dipamerkan di sebuah museum. Sumber: Pemerintah AS

Negara-negara pemilik senjata nuklir

Saat ini ada sembilan negara yang memiliki senjata nuklir: Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis, Inggris, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara. Persenjataan nuklir Rusia dan Amerika Serikat adalah yang terbesar.

Negara-negara yang terlibat

Meskipun hanya sembilan negara yang memiliki senjata nuklir, lebih dari 30 negara lain mendukung kepemilikan dan potensi penggunaannya, termasuk dengan mengklaim perlindungan dari negara sekutu mereka, yang disebut dengan “payung nuklir”.

Semua anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organisation – NATO), misalnya, secara terbuka mendukung senjata nuklir. Beberapa di antaranya bahkan menempatkan bom nuklir AS di wilayah mereka, termasuk Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki, serta menyediakan pesawat dan personel yang diperlukan untuk menjatuhkannya. Belarus memiliki perjanjian penempatan serupa dengan Rusia.

Beberapa negara berbagi intelijen untuk mencapai sasaran nuklir, atau mengizinkan kapal-kapal yang dilengkapi senjata nuklir melintasi perairan mereka dan berlabuh di pelabuhan mereka, atau pesawat-pesawat yang dilengkapi senjata nuklir memasuki wilayah udara mereka dan mengisi bahan bakar di bandara-bandara mereka.

Semua tindakan keterlibatan semacam itu mempertahankan bahaya nuklir dan merusak upaya-upaya pelucutan senjata.

Para pengunjuk rasa di Jerman memblokade pangkalan militer tempat bom nuklir AS ditempatkan. Sumber: Ralf Schlesener

Kekhawatiran terkait proliferasi

Kegagalan negara-negara pemilik senjata nuklir untuk melakukan pelucutan senjata telah meningkatkan risiko bahwa lebih banyak negara, atau bahkan aktor non-negara, suatu hari nanti akan memperoleh senjata nuklir. Mencapai kemajuan dalam pelucutan senjata sangat penting untuk mencegah penyebarannya.

Meskipun langkah-langkah penting telah diterapkan untuk mencegah proliferasi, efektivitas langkah-langkah tersebut tidak dapat dijamin. Setiap negara yang mampu melakukan pengayaan uranium atau memproses ulang bahan bakar nuklir bekas untuk menghasilkan plutonium, secara teori, dapat mengembangkan senjata nuklir dalam hitungan bulan.

Afrika Selatan, Israel, India, Pakistan, dan Korea Utara, semuanya memperoleh senjata nuklir dengan menggunakan fasilitas dan bahan yang secara resmi diperuntukkan bagi “tujuan damai.” Ini menegaskan bahwa risiko proliferasi melekat dalam program tenaga nuklir.

Hanya beberapa kilogram uranium yang diperkaya tinggi atau plutonium yang dipisahkan sudah cukup untuk memproduksi satu bom nuklir. Saat ini, ratusan ton bahan-bahan ini tersimpan dalam cadangan global, dengan produksi yang terus bertambah. Agar pelucutan senjata berhasil, masalah ini harus ditangani.

Argumen penghapusan

Untuk melindungi umat manusia dari kerusakan dahsyat dan tidak dapat dipulihkan kembali yang ditimbulkan oleh senjata nuklir, pemerintah negara-negara di dunia harus segera bertindak untuk memusnahkannya.

Puluhan ribu senjata nuklir telah dibongkar sebagai tanggapan atas seruan dari masyarakat di seluruh dunia untuk menghapuskannya. Satu negara, Afrika Selatan, telah sepenuhnya menghapuskan senjata nuklirnya; puluhan negara lain telah membatalkan rencana mereka untuk memperoleh senjata nuklir.

Pada puncak Perang Dingin, terdapat sekitar 70.000 senjata nuklir. Pengurangan besar-besaran persediaan senjata nuklir global tercapai antara pertengahan tahun 1980-an hingga awal 2000-an.

Namun, baru-baru ini, program perlucutan hulu ledak telah terhenti, dan beberapa negara yang memiliki senjata nuklir kini memperluas arsenal mereka dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tak satupun dari mereka yang telah merumuskan rencana untuk pelucutan senjata total.

Seorang seniman menentang instalasi bom. Sumber: Miki Anagrius

Tidak bermoral, melanggar hukum, dan tidak demokratis

Senjata nuklir menimbulkan kematian dan kehancuran dalam skala besar, serta mengancam kelangsungan hidup umat manusia. Pembunuhan dan penyiksaan tanpa pandang bulu terhadap ratusan ribu orang tidak pernah dapat dibenarkan secara moral.

Setiap penggunaan senjata nuklir akan melanggar hukum internasional dan merupakan kejahatan perang tingkat tertinggi. Senjata dengan dampak bencana tidak pernah dapat memenuhi tujuan militer atau strategis yang sah.

Di seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang memiliki senjata nuklir, jajak pendapat menunjukkan dukungan publik yang kuat terhadap penghapusan senjata nuklir. Pemerintah yang terus mengembangkan persenjataan nuklir bertindak bertentangan dengan kehendak, dan kepentingan terbaik, warga negaranya.

Setiap orang, di mana pun, akan mendapatkan manfaat dari penghapusan senjata yang paling mengerikan ini.

Risiko penggunaan yang meningkat

Risiko penggunaan senjata nuklir saat ini, baik secara tidak sengaja maupun disengaja, sama tingginya dengan sebelumnya, dan tampaknya hanya akan meningkat.

Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan keamanan internasional yang buruk, meningkatnya ketegangan di antara negara-negara bersenjata nuklir, peningkatan kekuatan nuklir mereka, dan terkikisnya norma dan lembaga internasional.

Upaya untuk menggapai kemampuan siber ofensif, teknologi otonom, dan kecerdasan buatan di bidang militer membuat ancaman tersebut semakin besar.

Mempertahankan senjata nuklir dalam keadaan siaga tinggi, yakni siap digunakan dalam hitungan menit setelah peringatan serangan yang akan datang, adalah praktik yang sangat berbahaya. Setelah rudal berhulu ledak nuklir diluncurkan, rudal tersebut tidak dapat ditarik kembali. Rudal tersebut harus menuju targetnya, bahkan jika peluncuran tersebut didasarkan pada informasi yang salah.

Dalam kabut perang, para pemimpin cenderung bertindak tidak rasional dan tidak terduga. Potensi kesalahpahaman sangat besar terutama dalam situasi yang penuh tekanan dan kacau.

Sangat mudah untuk meramalkan bagaimana momen panik atau kekejaman, ego yang terluka atau miskomunikasi, dapat menyebabkan bencana global, karena kekuatan besar untuk melepaskan kehancuran nuklir berada di tangan beberapa individu saja.

Pada beberapa kesempatan selama Perang Dingin, dunia hampir mengalami perang nuklir skala penuh. Insiden yang paling terkenal adalah krisis rudal Kuba tahun 1962 yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Fakta bahwa senjata nuklir belum digunakan dalam konflik sejak tahun 1945 lebih berkaitan dengan keberuntungan daripada manajemen yang baik. Dan cepat atau lambat, keberuntungan kita akan habis – kecuali tindakan efektif diambil untuk menghilangkan ancaman ini.

Penggentaran nuklir

Negara-negara yang memiliki senjata nuklir sering kali mengemukakan teori “penggentaran nuklir” (nuclear deterrence) untuk membenarkan kepemilikan persenjataan nuklir mereka. Mereka berpendapat bahwa senjata-senjata tersebut semata-mata bertujuan untuk mencegah negara lain melancarkan serangan nuklir, dan dengan demikian berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas.

Namun, sebagian besar negara menolak logika tersebut dan memandang penggentaran nuklir sebagai pendekatan keamanan yang berbahaya, keliru, dan tidak berkelanjutan. Selain itu, pendekatan ini pada dasarnya bersifat agresif, karena bergantung pada ancaman yang konstan dan kredibel untuk menimbulkan kematian dan kehancuran dalam skala besar.

Bertentangan dengan klaim para pendukung konsep penggentaran, keberadaan senjata nuklir di dunia tidak mencegah terjadinya konflik, termasuk tindakan agresi terhadap negara-negara yang memiliki senjata nuklir. Faktanya, senjata nuklir justru meningkatkan kemungkinan terjadinya perang dan konfrontasi dengan memperparah ketegangan serta memfasilitasi paksaan dan pemerasan.

Teori penggentaran menawarkan senjata nuklir sebagai sumber keamanan yang sah dan diinginkan. Hal ini mendorong proliferasi dan menghambat pelucutan.

Kecelakaan dan kesalahan

Bukan hanya risiko karena penggunaannya secara sengaja; senjata nuklir juga dapat meledak akibat kesalahan manusia, kegagalan teknis, serangan siber, salah tafsir soal peringatan, ataupun akses tidak sah ke sistem komando dan kendali.

Berbagai kecelakaan yang melibatkan senjata nuklir sejak tahun 1945, serta insiden-insiden di mana senjata tersebut nyaris digunakan akibat kesalahan, menunjukkan potensi bencana yang tidak disengaja yang sangat mengkhawatirkan.

Pada tahun 1968, misalnya, sebuah pesawat AS yang membawa empat bom nuklir terbakar dan jatuh di dekat Greenland, mencemari wilayah sekitarnya dengan plutonium. Untungnya, meskipun ledakan terjadi, reaksi berantai nuklir tidak terpicu.

Pada tahun 1995, pejabat Rusia salah menafsirkan peluncuran roket ilmiah Norwegia sebagai rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam AS. Presiden Rusia mengambil kode peluncuran untuk serangan balasan, tetapi pada akhirnya memutuskan bahwa itu adalah peringatan palsu.

Insiden-insiden lain yang sangat mengkhawatirkan melibatkan hilangnya senjata nuklir di laut, tabrakan kapal selam bertenaga nuklir, angsa yang terbang dan pantulan cahaya dari awan yang disalahartikan sebagai rudal yang membawa nuklir di bagian ujungnya, serta dipakainya pita rekaman pelatihan secara tidak sengaja ke dalam komputer operasional, yang mensimulasikan serangan nuklir yang akan datang.

Pada tahun 1961, dua bom nuklir jatuh ke tanah di negara bagian North Carolina, AS, ketika sebuah pesawat pembom kehilangan sayapnya. “Dengan selisih peluang yang sangat kecil, secara harfiah karena kedua kabel tidak terhubung, ledakan nuklir berhasil dihindari,” kata Robert McNamara, Menteri Pertahanan AS saat itu. Sumber: Pemerintah AS

Tidak ada respon kemanusiaan

Penggunaan senjata nuklir sekalipun hanya satu saja di mana pun di dunia ini akan membebani infrastruktur kesehatan secara berlebihan, sehingga membuat respons kemanusiaan yang efektif menjadi mustahil.

Rumah sakit dan apotek, peralatan pemadam kebakaran, serta sistem komunikasi dan transportasi akan hancur berantakan di seluruh zona kehancuran total yang membentang sejauh beberapa kilometer.

Mereka yang berusaha memberikan pertolongan kepada orang sakit dan luka-luka akan terpapar tingkat radiasi yang tinggi sehingga mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross – ICRC) telah berulang kali memperingatkan bahwa tidak ada kapasitas tanggap darurat yang memadai jika satu senjata nuklir digunakan, apalagi perang nuklir skala penuh, dan kemampuan untuk itu tidak akan pernah dapat dikembangkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation – WHO) juga menyimpulkan: “Apa pun yang tersisa dari layanan medis di dunia tidak akan mampu meringankan bencana tersebut secara signifikan.”

Gambaran tentang pos pertolongan pertama pada tahun 1945 oleh seorang penyintas Hiroshima. Para korban luka meninggal satu demi satu. Sumber: Fumiko Yamaoka

Apakah bunker bisa membantu?

Membangun lebih banyak bunker nuklir, atau tempat perlindungan radiasi, bukanlah solusi. Meskipun menjadi populer selama Perang Dingin, bunker-bunker ini memberikan rasa aman yang semu kepada warga terkait peluang untuk bisa bertahan hidup dalam perang nuklir.

Jika terjadi serangan nuklir, kecil kemungkinan ada yang menerima peringatan dini, sehingga tidak akan ada kesempatan untuk mencari perlindungan.

Selain itu, banyak bunker yang dekat dengan titik nol akan berubah menjadi tungku pembakaran, membunuh semua orang di dalamnya. Bahkan, beberapa senjata nuklir dirancang khusus untuk menembus jauh ke dalam bumi guna menghancurkan bunker.

Mereka yang berhasil menemukan bunker tepat waktu dan selamat di dalamnya akan menghadapi neraka radioaktif yang berbahaya saat keluar, peluang untuk diselamatkan sangat kecil.

Pemborosan dumber daya

Setiap tahun, negara-negara yang memiliki senjata nuklir menghabiskan miliaran dolar untuk memperkuat dan memperluas kekuatan nuklir mereka. Biaya ini sebenarnya dapat diinvestasikan dalam bidang layanan kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, serta upaya penanganan krisis iklim.

Di beberapa negara, perusahaan-perusahaan meraup keuntungan besar dari dukungan mereka terhadap pengembangan dan produksi senjata nuklir. Lembaga-lembaga think-tank dan universitas juga turut terlibat dan memperoleh keuntungan finansial.

Menghentikan kegiatan yang membahayakan nyawa ini akan memberikan sumber daya bagi keperluan lain dan memungkinkan para ilmuwan terbaik untuk berkontribusi pada terciptanya dunia yang lebih damai, bukan justru untuk menyempurnakan kemampuan militer negara-negara pemilik senjata nuklir untuk membunuh dan menghancurkan dalam skala besar.

Sebuah kapal selam bersenjata nuklir yang sedang dibangun di Inggris. Sumber: Pemerintah Inggris

Sebuah hambatan bagi perdamaian

Senjata nuklir sama sekali tidak membantu mengatasi tantangan-tantangan keamanan apa pun yang dihadapi saat ini. Sebaliknya, senjata nuklir justru memperburuk tantangan-tantangan keamanan atau bahkan menjadi sumber utama ancaman-ancaman tersebut.

Tercapainya penghapusan senjata nuklir akan memungkinkan terjalinnya hubungan yang lebih harmonis antar bangsa dan membuka peluang bagi kerja sama internasional yang lebih erat, yang akan menguntungkan masyarakat di seluruh dunia, termasuk, yang tidak kalah penting, di negara-negara yang memiliki senjata nuklir saat ini.

Penghapusan senjata nuklir akan menjadi barang publik global yang paling berharga, yang mendukung kepentingan keamanan baik secara nasional maupun kolektif.

Kritik gender

Para pemimpin yang menunjukkan kemauannya untuk menggunakan senjata nuklir sering dipuji sebagai sosok yang maskulin, kuat, dan tegas, sedangkan mereka yang mendukung pelucutan senjata sering dianggap sebagai sosok yang feminin, lemah, dan emosional.

Selain itu, perdebatan publik dan proses pengambilan keputusan terkait senjata nuklir cenderung didominasi oleh laki-laki.

Dengan secara aktif menentang pandangan-pandangan tersebut serta menjamin keragaman gender dan inklusi yang lebih besar peluang keberhasilan dalam upaya pelucutan senjata akan semakin meningkat.

Larangan terhadap senjata nuklir

Pada tahun 2017, setelah satu dekade advokasi yang dilakukan oleh Kampanye Internasional untuk Penghapusan Senjata Nuklir (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons – ICAN) dan mitra-mitranya, 122 negara menyetujui untuk mengadopsi sebuah perjanjian bersejarah yang melarang senjata paling mematikan di dunia, yang dikenal sebagai Traktat Pelarangan Senjata Nuklir (Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons – TPNW). Traktat ini mulai berlaku pada tahun 2021.

Sebelum berlakunya traktat tersebut, senjata nuklir adalah satu-satunya senjata pemusnah massal yang tidak tunduk pada larangan komprehensif yang berlaku secara global. Dengan demikian, perjanjian baru ini mengisi celah besar dalam hukum internasional.

Traktat ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap ancaman yang semakin besar yang ditimbulkan oleh senjata nuklir terhadap kelangsungan hidup manusia, lingkungan, pembangunan sosial-ekonomi, ekonomi global, ketahanan pangan, serta kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang.

Traktat ini bukan hanya perjanjian multilateral pertama yang secara tegas melarang senjata nuklir, tetapi juga yang pertama kali menetapkan kerangka kerja untuk penghapusan senjata nuklir yang dapat diverifikasi serta untuk membantu korban penggunaan dan uji coba senjata tersebut.

[FACT]

Fakta: Hingga saat ini, 74 negara telah meratifikasi atau bergabung dengan Traktat Pelarangan Senjata Nuklir, sementara 25 negara lainnya telah menandatanganinya. Mestinya akan lebih banyak negara yang mengikuti jejak negara-negara tersebut.

[/FACT]

Meskipun hingga saat ini belum ada negara pemilik senjata nuklir yang bergabung dengan TPNW, traktat ini tetap menjadi alat yang tak tergantikan untuk memperkuat tabu global terhadap penggunaan senjata nuklir dan mendorong langkah-langkah pelucutan senjata yang sudah lama tertunda.

Sejarah telah menunjukkan bahwa pelarangan terhadap jenis-jenis senjata tertentu memfasilitasi kemajuan menuju penghapusan senjata tersebut. Senjata yang telah dilarang semakin dipandang sebagai sesuatu yang tidak sah, sehingga kehilangan status politik dan, akibatnya, sumber daya untuk produksinya.

 

“Berlakunya Traktat Pelarangan Senjata Nuklir Januari 2021 merupakan capaian yang luar biasa dan merupakan langkah bagi penghapusan senjata nuklir pada akhirnya.”

– António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, 2021

Seiring dengan semakin banyaknya negara yang bergabung dengan TPNW dari waktu ke waktu, norma-norma perjanjian ini akan semakin menguat, dan tekanan terhadap negara-negara pemilik senjata nuklir untuk mematuhinya pun akan semakin meningkat. Hingga saat ini, lebih dari separuh negara di dunia telah bergabung dengan traktat tersebut.

Perjanjian ini menawarkan alternatif yang ampuh bagi dunia yang ancaman untuk menimbulkan kehancuran massal dibiarkan merajalela. Traktat ini membuka jalan ke depan di tengah krisis yang mengkhawatirkan.

Upacara penandatanganan tingkat tinggi untuk TPNW pada tahun 2017. Sumber: Foto PBB

Ketentuan-ketentuan utama TPNW

Larangan

TPNW melarang negara-negara mengembangkan, menguji, memproduksi, memperoleh, menimbun, mengalihkan, menggunakan atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir. Mereka juga dilarang untuk menampung senjata nuklir negara lain di wilayah mereka, atau membantu atau mendorong orang lain untuk terlibat dalam kegiatan yang dilarang oleh perjanjian tersebut.

Kerangka Kerja untuk Penghapusan

Traktat ini menetapkan kerangka hukum bagi penghapusan program-program senjata nuklir dan fasilitas terkait yang dapat diverifikasi dan secara permanen. Sebuah negara pemilik senjata nuklir yang bergabung dengan traktat ini harus segera menghilangkan status operasional senjata nuklirnya dan menghancurkan senjata-senjata nuklirnya sesuai dengan rencana yang telah dinegosiasikan dan dalam batas waktu tertentu, yakni dengan batas waktu maksimal 10 tahun. Sebagai alternatif, suatu negara dapat menghancurkan senjata nuklirnya sebelum bergabung dengan perjanjian ini dan diverifikasi oleh otoritas internasional yang ditunjuk.

Bantuan bagi Korban dan Pemulihan Lingkungan

Traktaat tersebut mewajibkan negara-negara untuk memberikan bantuan kepada korban penggunaan dan uji coba senjata nuklir, termasuk dalam bentuk perawatan medis, rehabilitasi, dan dukungan psikologis. Mereka juga harus mengambil langkah-langkah untuk memulihkan kawasan yang terkontaminasi radiasi akibat ledakan nuklir. Kerja sama internasional merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan ketentuan-ketentuan ini.

Didasarkan pada traktat-traktat lain

TPNW memperkuat perjanjian-perjanjian sebelumnya yang berkaitan dengan senjata nuklir, termasuk Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (Non-Proliferation Treaty) tahun 1968, yang bertujuan untuk membatasi jumlah negara yang memiliki senjata nuklir dan mendorong tercapainya tujuan pelucutan senjata.

Sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Internasional pada tahun 1996, negara-negara memiliki kewajiban hukum “ dengan itikad baik untuk mencapai tujuan tersebut dan menyelesaikan negosiasi yang mengarah pada pelucutan senjata nuklir”. Kurangnya kemajuan menuju tujuan ini menjadi motivasi utama untuk negosiasi TPNW.

Perjanjian pelengkap lainnya meliputi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Senjata Nuklir (Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty) tahun 1996 dan perjanjian regional yang menetapkan zona-zona bebas senjata nuklir di Amerika Latin dan Karibia, Pasifik Selatan, Afrika, Asia Tenggara, dan Asia Tengah.

TPNW didasarkan pada seperangkat hukum yang dikenal sebagai hukum humaniter internasional, yang membatasi metode dan sarana peperangan. Para pihak dalam konflik bersenjata harus menahan diri dari penggunaan senjata yang tidak mampu membedakan antara warga sipil dan kombatan, atau senjata yang menimbulkan cedera berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu.

Salinan asli TPNW. Sumber: ICAN

Mengajak lebih banyak negara untuk mendukung

Setiap negara dapat bergabung dengan TPNW kapan saja. Negara-negara yang saat ini masih enggan melakukannya mungkin akan meninjau kembali sikap mereka seiring bertambahnya jumlah anggota perjanjian dan semakin kuatnya tuntutan dari warga negaranya.

Hal ini pernah terjadi pada perjanjian-perjanjian lain di masa lalu. Perancis dan Tiongkok, misalnya, menentang Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) saat perjanjian itu dinegosiasikan, namun merasa harus bergabung beberapa dekade kemudian.

Dunia berubah dengan cepat, dan para pemimpin saat ini tidak akan berkuasa selamanya. Pemerintah-pemerintah di masa depan mungkin akan menerima manfaat dari traktat ini, sementara pemerintah-pemerintah saat ini tidak.

Negara-negara yang telah bergabung dengan TPNW dituntut untuk mendorong negara lain agar ikut bergabung, dengan tujuan akhir “kepatuhan universal”.

Negara yang bergabung dengan traktat ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa senjata nuklir tidak dapat diterima dan harus dihapuskan. Di tengah meningkatnya ancaman nuklir, hal ini menawarkan harapan terbaik untuk menghilangkan senjata yang paling buruk.

“Mari kita manfaatkan sekarang peluang unik yang ditawarkan oleh traktat ini dan akhiri era senjata nuklir.”

Komite Internasional Palang Merah, 2020

Pertemuan para pihak TPNW di New York pada tahun 2025. Sumber: ICAN

Negara-negara yang telah melucuti senjata nuklir: Afrika Selatan dan Kazakhstan

Dua negara pendukung utama TPNW, Afrika Selatan dan Kazakhstan, telah membuktikan melalui tindakan-tindakan di masa lalu bahwa pelucutan senjata nuklir adalah hal yang mungkin.

Ketika Kazakhstan memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1991 setelah runtuhnya Uni Soviet, lebih dari 1.400 senjata nuklir masih tersisa di wilayahnya. Negara tersebut memilih untuk melepaskan semuanya, dengan menyadari bahwa keamanan terbaiknya dapat dicapai melalui pelucutan senjata.

Afrika Selatan mencapai kesimpulan yang sama pada akhir era Apartheid pada awal 1990-an, dengan secara sukarela membongkar seluruh arsenal bom nuklirnya, sebuah tindakan yang kemudian diverifikasi oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency).

Para pemimpin dari kedua negara tersebut telah menyatakan kebanggaan yang besar atas kontribusi mereka dalam mewujudkan dunia yang bebas dari senjata nuklir, dan mendesak negara-negara lain untuk mengikuti jejak mereka.

Selongsong untuk bom nuklir Afrika Selatan.

Tindakan untuk penghapusan

Senjata nuklir dibuat oleh tangan manusia dan dapat dibongkar oleh tangan manusia. Tidak ada hambatan teknis, hanya hambatan politik. Puluhan ribu senjata nuklir telah dibongkar.

Dengan kepemimpinan dan kemauan politik, kemajuan lebih lanjut menuju pelucutan senjata dapat dicapai dengan sangat cepat. Fakta bahwa wilayah geografis yang luas telah dinyatakan bebas dari senjata nuklir menunjukkan bahwa, suatu hari nanti, seluruh dunia pun bisa demikian.

Secara historis, beberapa terobosan terbesar dalam bidang pengendalian senjata nuklir dicapai pada masa-masa ketegangan internasional yang tinggi. Krisis dapat membuat pikiran para pemimpin menjadi fokus dan memaksa mereka untuk menjajaki jalan baru ke depan.

Namun, kemajuan akan selalu bergantung pada gerakan akar rumput yang kuat bagi perubahan, yang melibatkan warga yang peduli dari berbagai lapisan masyarakat. Tabu global terhadap penggunaan senjata nuklir yang kuat dan bertahan lama yang ada saat ini adalah hasil dari perlawanan masyarakat selama puluhan tahun.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan individu untuk berkontribusi pada upaya penghapusan senjata terburuk di dunia. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Prosesi obor melalui Oslo, Norwegia, untuk mendukung TPNW. Sumber: Kristian Laemmle-Ruff

Didik

Bagikan informasi kepada teman, anggota keluarga, dan rekan kerja mengenai urgensi penghapusan senjata nuklir. Tulis artikel dan surat pembaca, bagikan konten di media sosial, serta selenggarakan forum publik, lokakarya, dan pemutaran film.

Meningkatkan kesadaran akan dampak buruk yang ditimbulkan senjata nuklir terhadap manusia dan lingkungan sangatlah penting. Sayangnya, pendidikan mengenai senjata nuklir seringkali justru berfokus pada para pria yang menciptakan dan menjatuhkan senjata tersebut pada tahun 1945.

Kesaksian langsung dari para penyintas Hiroshima dan Nagasaki, serta orang-orang yang dirugikan oleh uji coba nuklir, dapat membantu mengubah sikap dan mendorong untuk bertindak.

Burung bangau kertas

Di Jepang, burung bangau kertas secara tradisional merupakan simbol kesehatan yang baik dan umur panjang. Saat ini, burung-burung bangau kertas juga diakui secara internasional sebagai simbol perdamaian, dan dapat digunakan untuk mendorong pembicaraan penting mengenai kebutuhan mendesak untuk menghapuskan senjata nuklir.

Saat berusia dua tahun, Sadako Sasaki terpapar radiasi dari bom di Hiroshima. Bertahun-tahun kemudian, dia didiagnosis menderita leukemia, yang merupakan efek tertunda dari radiasi, dan ia berkeinginan untuk melipat seribu burung bangau kertas selama di rumah sakit, dengan harapan apa yang dilakukannya akan membawa kebaikan bagi kesehatannya.

Ia melakukannya dengan gigih dan mencapai tujuannya, namun sayangnya, kesehatannya semakin memburuk setiap hari dan ia meninggal pada usia 12 tahun.

Sejak saat itu, anak-anak di seluruh Jepang dan di seluruh dunia melipat burung-burung bangau kertas untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap penghapusan senjata nuklir.

Mengapa tidak mengirimkan atau menyerahkan langsung burung-burung burung bangau kertas kepada wakil-wakil rakyat di negaramu, disertai surat yang meminta dukungan mereka terhadap Traktat Pelarangan Senjata Nuklir?

Ribuan burung bangau kertas menghiasi sebuah monumen di Nagasaki. Sumber: ICAN

Dukung

Kirim surat, telepon, atau temui para pembuat kebijakan di negaramu untuk meminta dukungan mereka dalam upaya penghapusan total senjata nuklir.

Sejak 2017, ribuan anggota parlemen dari berbagai spektrum politik telah menanggapi tuntutan warga yang peduli dan menandatangani janji ICAN untuk mendorong kepatuhan terhadap Traktat Pelarangan Senjata Nuklir.

Ratusan kota, mulai dari Washington DC hingga Paris dan Sydney, juga telah secara resmi mendukung perjanjian tersebut dengan menandatangani seruan ICAN.

Anda tidak perlu menjadi ahli untuk menyuarakan pendapat Anda. Yang terpenting adalah Anda menyadari betapa seriusnya ancaman ini dan betapa mendesaknya tindakan yang harus diambil.

ICAN mempertemukan para anggota parlemen dari seluruh dunia. Sumber: Derek French

Protes

Aksi protes tanpa kekerasan merupakan cara penting bagi masyarakat untuk menyampaikan penolakan mereka terhadap senjata nuklir. Aksi ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk unjuk rasa, pawai, blokade, dan aksi doa bersama.

Selama beberapa dekade, para anggota gerakan perdamaian dan pelucutan senjata global telah menggelar aksi protes, baik skala besar maupun kecil, untuk menarik perhatian terhadap perjuangan ini. Tak terhitung banyaknya aksi yang telah dilakukan di lokasi-lokasi tempat senjata nuklir dibuat dan ditempatkan, di universitas-universitas yang terlibat dalam pengembangannya, serta di luar gedung-gedung parlemen nasional.

Tidak diragukan lagi, protes massal telah membantu mengakhiri uji coba nuklir, menghentikan perluasan persenjataan nuklir, mencegah penggunaan senjata nuklir dalam perang sejak tahun 1945, dan membangun tekanan untuk pelucutan senjata.

Sekarang yang diperlukan adalah tindakan yang lebih langsung.

Aksi antinuklir di Melbourne, Australia. Sumber: Jesse Boylan

Divestasi

Di beberapa negara yang memiliki senjata nuklir, perusahaan terlibat dalam produksi senjata nuklir dan komponennya, dan lembaga keuangan menyediakan modal untuk memungkinkan pekerjaan ini.

Menarik investasi dari industri senjata nuklir merupakan kontribusi nyata yang dapat diberikan lembaga keuangan untuk perlucutan senjata. Ratusan lembaga telah melakukannya, berkomitmen pada pembiayaan bebas senjata nuklir, sesuai dengan Traktat Pelarangan Senjata Nuklir.

Individu dapat menghubungi bank dan dana pensiun mereka dan bersikeras agar perusahaan senjata nuklir dikecualikan dari investasi mereka.

Tentang ICAN

Kampanye Internasional untuk Penghapusan Senjata Nuklir (ICAN) adalah koalisi global organisasi non pemerintah dengan misi sederhana: meyakinkan setiap negara di dunia untuk bergabung dan sepenuhnya menerapkan Traktat Pelarangan Senjata Nuklir yang bersejarah itu.

Didirikan di Melbourne, Australia, pada tahun 2007, kampanye ini terinspirasi oleh gerakan yang berhasil untuk melarang ranjau darat anti personel satu dekade sebelumnya menggunakan dasar kemanusiaan. Saat ini, ICAN bermarkas di Jenewa, Swiss.

“Kita membutuhkan gerakan global yang tegas untuk melarang dan menghapus senjata nuklir. Untuk mencapai tujuan itu dalam generasi sekarangh, kita perlu membangun gelombang opini publik menjadi sebuah kekuatan dahsyat: sebuah kekuatan besar, bergelombang, dan tak tertahankan, yang membawa kita ke tujuan kita, yakni tidak adanya senjata nuklir sama sekali. Tanpa itu, para pemimpin yang paling inspiratif pun akan goyah di tengah jalan.”

– Bill Williams, salah satu pendiri ICAN, 2006

Aksi ICAN di Jenewa. Sumber: Aude Catimel

Sejak awal pendiriannya, ICAN telah berfokus untuk membangun gelombang besar penolakan publik terhadap senjata nuklir, termasuk dengan memperkuat suara para penyintas bom nuklir dari Hiroshima dan Nagasaki serta orang-orang yang dirugikan oleh uji coba nuklir.

Bekerja sama dengan Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross), Sekretariat PBB, dan pemerintah yang memiliki pandangan serupa, ICAN telah mengadakan acara peningkatan kesadaran, menerbitkan penelitian rintisan, mengorganisir hari-hari untuk aksi global, dan menyampaikan argumen penghapusan senjata nuklir langsung kepada para pengambil keputusan senior.

[FACT]

Fakta: Saat ini, Kampanye Internasional untuk Penghapusan Senjata Nuklir memiliki 700 organisasi mitra di 113 negara.

[/FACT]

Setsuko Thurlow

Saat berusia 13 tahun, Setsuko Thurlow pingsan akibat ledakan bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima. Ia terjebak di puing-puing bangunan yang runtuh, tetapi akhirnya berhasil merangkak keluar.

“Sebagian besar teman sekelas saya di gedung itu tewas terbakar,” kenangnya. “Saya melihat kehancuran yang luar biasa dan tak terbayangkan di sekitar saya… Bau busuk daging manusia yang terbakar memenuhi udara.”

Sebagai saksi hidup kengerian perang nuklir, Setsuko bersama dengan ICAN menerima Penghargaan Nobel Perdamaian yang diberikan pada tahun 2017. “Setiap detik dalam setiap hari, senjata nuklir membahayakan semua orang yang kita cintai dan segala sesuatu yang kita hargai,” ia memperingatkan.

“Kita tidak boleh mentolerir lagi kegilaan ini.”

Ia mendesak para pemimpin dunia untuk menandatangani Traktat Pelarangan Senjata Nuklir yang baru saja diadopsi. “Biarlah ini menjadi awal dari akhir senjata nuklir,” katanya. “Bergabunglah dengan perjanjian ini; hapus ancaman pemusnahan oleh senjata nuklir untuk selamanya.”

Setsuko Thurlow di upacara Penghargaan Nobel Perdamaian di Norwegia pada tahun 2017. Sumber: Jo Straube

Hadiah Nobel Perdamaian

Pada tahun 2017, ICAN dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian “atas upayanya untuk menarik perhatian terhadap konsekuensi kemanusiaan yang dahsyat dari penggunaan senjata nuklir dan atas upaya inovatifnya untuk mencapai pelarangan senjata tersebut dengan basis perjanjian”.

“Kami sangat yakin bahwa ICAN, lebih dari yang lain, dengan arah dan semangat yang baru telah berusaha untuk mencapai dunia tanpa senjata nuklir.”

Komite Nobel Norwegia, 2017

Penghargaan ini merupakan penghormatan atas upaya tak kenal lelah dari para aktivis dan warga negara yang peduli di seluruh dunia yang, sejak awal era nuklir, telah dengan lantang memprotes senjata nuklir, dan bersikeras agar senjata nuklir dihapuskan selamanya.

Ini bukanlah mimpi yang terlalu jauh, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Generasi mendatang harus tumbuh bebas dari momok mengerikan ini.

Aksi bersama para siswa di Hiroshima. Sumber: Takeo Nakaoku

Daftar untuk menerima pemberitahuan ICAN

Kembali ke atas